Rabu, 08 Juni 2011

KEPERAWATAN ADO


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMASANGAN AMPLATZER DUKTUS OCCLUDER (ADO) PADA PENYAKIT DUKTUS ARTERIOSUS PERSISTEN
I. Pengertian
Duktus arteriosus persisten adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke Vl pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desenden. Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10-15 jam setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2-3 minggu. Bila tidak menutup maka disebut duktus arteriosus persisten (Persistent Ductus Arteriosus = PDA). (Buku Ajar Kardiologi FKUI, 2003)

II. Etiologi
Penyebab terjadi penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1)      Faktor prenatal :
• Ibu menderita penyakit infeksi : rubella.
• Ibu alkoholisme.
• Umur ibu lebih 40 tahun .
• Ibu menderita DM yang memerlukan insulin.
• Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2) Faktor genetik :
• Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB.
• Ayah / ibu menderita PJB
• Kelainan kromosom seperti Sindroma Down
• Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.( Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001).

2)      III. Manifestasi klinis.
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindroma gagal napas). Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4-6 jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimtomatik, bayi dengan PDA besar dapat menunjukan tanda-tanda gagal jantung kongestif.

• Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung.
• Machinery murmur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata terdengar disela iga II kiri menjalar ke bawah clavikula kiri).
• Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / nadi menonjol dan meloncat-loncat, tekanan nadi yang lebar ( > 25 mm Hg)
• Takhikardi (denyut apek > 170 x/menit), ujung jari hiperemik.
• Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
• Infeksi saluran napas berulang, mudah lelah.
• Apnoe
• Takipnea
• Nasal flaring
• Hipoksemia
• Peningkatan kebutuhan ventilasi (sehubungan dengan masalah paru).

IV. Komplikasi
• Endokarditis
• Obtruksi pembuluh darah pulmonal
• CHF
• Hepatomegali jarang terjadi pada bayi prematur)
• Enterokolitis
• Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindroma gagal napas atau displasi bronkhopulmoner)
• Perdarahan gastrointestinal, penurunan jumlah trombosit.
• Hiperkalemia (penurunan keluaran urin)
• Aritmia
• Gagal tumbuh.

V. Penatalaksanaan
• Penatalaksanaan konservatif : retriksi cairan dan pemberian obat-obatan: furosemid diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskuler. Pemberian indometasin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.

• Pembedahan: pemotongan atau pengikatan duktus.
• Non bedah: penutupan dengan kateterisasi jantung.

VI. Pemeriksaan Diagnostik.
• Foto thorak : Atrium dan ventrikel kiri membesar secara signifikan (kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat.
• Ekhokardiografi : rasio atrium kiri terhadap pangkal aorta > 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau > 1,0 pada bayi prematur (disebabkan oleh peningkatan voulme atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan).
• Pemeriksaan dengan dopler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah dan arahnya.
• EKG : bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
• Kateterisasi jantung: hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau dopler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lain.

VII. Pengkajian
• Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas).
• Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, napas cepat, sesak, retraksi dada, bunyi jantung tambahan (machinery murmur), edema tungkai, hepatomegali.
• Kaji adanya hipoksi kronis: Clubbing finger.
• Kaji adanya hiperemia pada ujung jari.
• Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan.
• Pengkajian psikososial : usia anak, tugas perkembngan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak.

VIII. Diagnosa keperawatan.
1. Aktual / resiko tinggi menurunnya curah jantung yang b.d. penurunan kontraktilitas ventrikel kiri, perubahan frekuensi, irama, dan konduksi elektrikal
2. Aktual / resiko tinggi pola napas tidak efektif yang b.d. pengembangan paru tidak optimal, kelebihan cairan di paru sekunder akibat edema paru akut.
3. Intoleransi aktivitas yang b.d. penurunan curah jantung sekunder akibat perembesan darah dari aorta ke arteri pulmonalis.
4. Aktual / resiko tinggi perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang b.d. penurunan intake, mual dan anoreksia.
5. Kecemasan klien atau orang tua yang b.d. prognosis penyakit, perubahan peran, rasa takut akan kematian, serta ancaman atau perubahan kesehatan.

IX. Rencana Intervensi.
1. Aktual/resiko tinggi menurunya curah jantung b.d. penurunan kontraktilitas ventrikel kiri, perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrikal.
Ditandai:
Takikardi, disritmia: perubahan gambaran EKG, perubahan tensi, bnyi jantung ekstra(S3, S4), penurunan pengeluaran urine, nadi perifer tidak teraba, kulit dingin, ortopnea, krakels, distensi vena jugularis, pembesaran hepar, edema ektremitas, dan nyeri dada.
Tujuan:
Dalam waktu 3x24 jam penurunan curah jantung dapat teratasi.
Kriteria hasil:
Klien melaporkan penurunan episode dispnea, berperan dalam aktivitas mengurangi beban kerja jantung, tensi dalam batas normal (120/80 mmHg), nadi 80 x/menit, tidak terjadi aritmia, denyut dan irama jantung teratur, CRT < 3 detik, pengeluaran urin 30 cc/jam.
Intervensi:
1) Catat bunyi jantung
2) Palpasi nadi perifer
3) Pantau adanya pengeluaran urine, catat pengeluaran, dan kepekatan/konsentrasi urin.
4) Istirahatkan klien dengan tirah baring optimal.
5) Atur posisi tirah baring yang ideal. Kepala tempat tidur harus dinaikan 20 – 30 cm atau klien didudukan di kursi.
6) Kaji perubahan pada sensorik. Contoh: letargi, cemas, dan depresi.
7) Berikan istirahat psikologi dengan lingkungan yang tenang.
8) Berikan oksigen tambahan dengan nasal kanul/masker sesuai dengan indikasi.
9) Kolaborasi untuk pemberian diet jantung.
10) Kolaborasi untuk pemberian obat.
11) Diuretik, furosemid dan spironolakton.
12) Vasodilator contohnya nitrat.
13) Captopril, lisinopril.
14) Morfin sulfat.
15) Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai dengan indikasi, hindari cairan garam.
16) Pantau seri EKG dan perubahan foto dada.

2. Aktual/resiko tinggi pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan pengembangan paru tidak optimal, kelebihan cairan di paru sekunder akibat edema paru akut.
Tujuan:
Dalam waktu 3x24 jam tidak terjadi perubahan pola napas.
Kriteria:
Klien tidak sesak, RR dalam batas normal 16-20 x/menit, respon batuk berkurang.
Intervensi:
1) Auskultasi bunyi napas
2) Kaji adanya edema
3) Ukur intake out put
4) Timbang berat badan
5) Pertahankan pemasukan total cairan 1000 cc/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
6) Kolaborasi:
a) Berikan diet tanpa garam
b) Berikan diuretik
c) Pantau data laboratorium elektrolit kalium.

3. Intoleransi aktivitas b.d. penurunan curah jantung sekunder akibat perembesan darah dari aorta ke vena pulmonalis.
Tujuan:
Aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas.
Kriteria:
Klien menunjukan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala yang berat, terutama mobilisasi di tempat tidur.
Intervensi:
1. Catat frekuensi jantung, irama serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas.
2. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
3. Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat BAB
4. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas. Misalnya bangun dari kursi, bila tak ada nyeri ambulasi, dan istirahat 1 jam sesudah makan.
5. Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut.
6. Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien
7. Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
8. Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi
9. Berikan waktu istirahat diantara waktu aktivitas
10. Pertahankan penambahan oksigen sesuai kebutuhan
11. Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi napas, serta keluhan subyektif.
12. Berikan diet sesuai kebutuhan (pembatasan natriun dan air)
13. Rujuk ke program rehabilitasi jantung.

4. Aktual/resiko tinggi perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. penurunan intake, mual dan anoreksia
Tujuan:
Dalam waktu 3x24 jam terdapat peningkatan dalam pemenuhan nutrisi
Kriteria hasil:
Klien secara subyektif termotivasi untuk melakukan pemenuhan nutrisi sesuai anjuran, klien dan keluarga mengetahui tentang asupan nutrisi yang tepat pada klien, asupan meningkat pada porsi makan yang disediakan.
Intervensi:
1) Jelaskan tentang manfaat makan bila dikaitkan dengan kondisi klien saat ini
2) Anjurkan agar klien memakan makanan yang disediakan rumah sakit
3) Beri makanan dalam keadaan hangat dan porsi kecil serta diet TKTPRG
4) Libatkan keluarga klien dalam pemenuhan nutrisi tambahan yang tidak bertentangan dengan penyakitnya
5) Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intervensi/pemeriksaan per oral
6) Beri motivasi dan dukungan psikologis
7) Kolaborasi:
a) Dengan nutrisien tentang pemenuhan diet klien
b) Pemberian multivitamin.

5. Kecemasan klien atau orang tua b.d. prognosis penyakit, perubahan peran, rasa takut akan kematian, serta ancaman atau perubahan kesehatan.
Tujuan:
Dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien atau keluarga berkurang
Kriteria hasil:
Klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhi, kooperatif terhadap tindakan, dan wajah rileks.
Intervensi:
1) Bantu klien untuk mengekpresikan perasaan marah, kehilangan atau takut.
2) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingi klien, dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak.
3) Hindari konfrontasi
4) Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.
5) Tingkatkan kontrol sensasi klien
6) Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan
7) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya
8) Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
9) Kolaborasi: berikan anti cemas sesuai indikasi.

PROSEDUR TINDAKAN AMPLATZER DUCTUS OCCLUDER.
Persiapan alat:
1. Manifold two port 2
2. Blood set 2
3. Pressure line panjang 2
4. Spuit 10 cc 2
5. Spuit 20 cc / 50 cc 1
6. Spuit 2 cc 7
7. Sheat introduser 7F, 6F
8. Mess
9. Balon sizing sesuai ukuran
10. Guide wire 0,035 inchi panjang 150 cm
11. Lidokain 2% 4 ampul
12. NS 0,9% drip heparin 5000 iu (1 cc)
13. Bahan kontras non ionik
14. Kateter sesuai permintaan Dr.

Tindakan:
1. Penderita tidur terlentang di meja operasi
2. Dilakukan desinfeksi daerah inguinal kanan dan kiri dengan betadin 10%
3. Tentukan denyut arteri femoralis kanan
4. Lakukan anestesi lokal pada daerah 2 cm di bawah denyutan arteri femoralis kanan didaerah inguinalis dengan lidokain 2% sebanyak 2-5 cc
5. Lakukan pungsi vena femoralis kanan dengan teknik seldinger, setelah jarum masuk vena femoralis lakukan insersi guide wire pendek, evaluasi dengan fluoroskopi. Setelah posisi guide wire tepat pada lumen vena femoralis kanan, jarum seldinger ditarik keluar dan introduser sheath dimasukan melalui guide wire secara perlahan, evaluasi dengan fluoroskopi.
6. Lakukan aspirasi darah 2 cc, kemudian diflush dengan larutan saline heparin. Masukan kateter multipurpose melalui sheath yang telah terpasang. Lakukan monitoring tekanan dan diikuti fluoroskopi hingga ujung kateter berada pada atrium kanan.
7. Ujung kateter didorong ke vena kava superior dan dilakukan pengambilan contoh darah 2 cc untuk evaluasi saturasi SVC, RA, IVC.
8. Kateter dimasukan ke ventrikel kanan terus ke arteri pulmonalis sampai ke cabang arteri pulmonalis kanan/kiri. Dilakukan rekaman.
9. Dilakukan evaluasi saturasi darah di cabang arteri pulmonalis, kemudian kateter ditarik kembali ke ventrikel kanan (pullback recording), dilakukan evaluasi saturasi di RV. Dan setelah itu kateter ditarik ke atrium kanan (rekam tekanan).
10. J guide wire dimasukan perlahan (pantau fluoroskopi) kemudian jarum ditarik dan kateter sheath 6 F bersama dilatornya dimasukan hingga mencapai aorta, ukur tekanan.
11. Power injektor yang telah diisi kontras dihubungkan dengan kateter , dilakukan aspirasi dan tes injeksi kontras. Aortografi LAO 90 volume 30 cc kecepatan 15 cc/detik.
12. Masuk kateter MPA 6F ke femoral dektra, ke PA sampai AO lewat defek PDA ukur pressure.
13. PA – AO pull out MPA 6F
14. Masuk MPA 6F ke femoral kanan ke PA sampai AO melalui PDA.
15. Masuk ADO 8/10 aortografi LAO volume 30 cc kecepatan 15 cc/detik, PDA minimal tunggu 10 menit.
16. Dilakukan aortografi LAO 90 volume 30 cc kecepatan 15 cc/detik PDA minimal pullout.
17. Prosedur selesai.

ASKEP GAGAL JANTUNG


Label: Perkuliahan
PENGERTIAN
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi untuk metabolisme jaringan tubuh, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.
PENYEBAB
Terjadinya gagal jantung dapat disebabkan :
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volum berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic-peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.


GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
GEJALA :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III

GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri.

GEJALA :
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali

GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.

GEJALA :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan gagal jantung kongestif dengan sasaran :
1. Untuk menurunkan kerja jantung
2. Untuk meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard
3. Untuk menurunkan retensi garam dan air.

TIRAH BARING
Tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresis berbaring..

OKSIGEN
Pemenuhan oksigen akan mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

TERAPI NITRAT DAN VASODILATOR KORONER
Menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard.

DIURETIK
Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium sehingga menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah.

DIGITALIS
Digitalis memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi, peningkatan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan lebih besar dikirim ke ginjal untuk filtrasi dan ekskresi dan volume intravascular menurun.

INOTROPIK POSITIF
Dobutamin adalah obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek beta 1 meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).

SEDATIF
Pemberian sedative untuk mengurangi kegelisahan bertujuan mengistirahatkan dan memberi relaksasi pada klien.

DIET
Pengaturan diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.

PENGKAJIAN

RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN

Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.

Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.

Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.

Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok

PEMERIKSAAN FISIK

KEADAAN UMUM
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat

BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal

BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan

BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.

BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas

BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan

BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur

PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi, kesulitan koping.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.

3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.

4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.

5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium

6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung

7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.

8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.

Label: Perkuliahan
PENGERTIAN
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi untuk metabolisme jaringan tubuh, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.
PENYEBAB
Terjadinya gagal jantung dapat disebabkan :
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volum berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic-peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.


GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
GEJALA :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III

GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri.

GEJALA :
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali

GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.

GEJALA :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan gagal jantung kongestif dengan sasaran :
1. Untuk menurunkan kerja jantung
2. Untuk meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard
3. Untuk menurunkan retensi garam dan air.

TIRAH BARING
Tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresis berbaring..

OKSIGEN
Pemenuhan oksigen akan mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

TERAPI NITRAT DAN VASODILATOR KORONER
Menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard.

DIURETIK
Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium sehingga menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah.

DIGITALIS
Digitalis memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi, peningkatan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan lebih besar dikirim ke ginjal untuk filtrasi dan ekskresi dan volume intravascular menurun.

INOTROPIK POSITIF
Dobutamin adalah obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek beta 1 meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).

SEDATIF
Pemberian sedative untuk mengurangi kegelisahan bertujuan mengistirahatkan dan memberi relaksasi pada klien.

DIET
Pengaturan diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.

PENGKAJIAN

RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN

Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.

Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.

Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.

Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok

PEMERIKSAAN FISIK

KEADAAN UMUM
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat

BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal

BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan

BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.

BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas

BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan

BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur

PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi, kesulitan koping.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.

3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.

4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.

5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium

6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung

7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.

8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.