Rabu, 08 Juni 2011

KEPERAWATAN HIPERTENSI


Hipertensi

A. Pengertian
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada sistem pembuluh darah yang ditandai dengan tekanan darah melebihi normal. Sering terjadi pada usia pertengahan atau lebih usia 45 tahun atau lebih(Arif Muttaqin).  Hipertensi menurut JNC adalah kenaikan tekanan darah yang lebih tinggi, untuk tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari > 90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahanya.
B. Penyebab
Menurut penyebabnya hipertensi dapat dibagi menjadi dua :
1. Hipertensi primer atau essensial merupakan bagaian terbesar dari penyebab penderita hipertensi sekitar 90 % dan sampai saat ini belum diketahui penyebab secara pasti penyebab penyakit hipertensi primer ini.
2. Hipertensi sekunder,jenis hipertensi ini dapat diketahui penyebabnya seperti :
a. Kelainan ginjal
Ø Pyelonepritis kronis (PNC)
Ø Glomerulonepritis Kronis (GNC)
Ø Glumerulonepritis Akut (GNA)
Ø Penyempitan arteri renalis
b. Kelainan hormonal
Ø Diabetes mellitus
Ø Kosumsi pil KB
Ø Phaecromacytoma (tumor adrenal)
c. Kelainan neurologis
Ø Polineuritis
Ø Polimyelitis
d. Penyebab lainnya
Ø Preklamsi
Ø Koartasio aorta
Ø Obat-obatan.
C. Klasifikasi hipertensi
Hipertensi Sistolik Diastolik
Sedang 130- 139 85-89
Derajat 1 140-159 90-99
Derajat 2 160-179 100-109
Derajat 3 >180 >110

D. Patofiologi
Pengaturan tekanan darah arteri meliputi system control saraf yang komplek dan hormonal yang saling berhubungan satu sama yang lain dalam mempengaruhi curah jantung tahanan vaskuler perifer.Hal inilah yang ikut dalam pengaturan tekanan darah adalah reseptor dengan mekanismenya.Curah jantung ditentukan oleh volume sikuncup dan frekwensi jantung.Tahanan perifer ditentukan oleh diameter arteriol.Bila diameternya menurun (vasokontriksi),tahanan perifer akan meningkat.Bila diameternya meningkat (vasodilatasi) tahanan perifer akan menurun.

WOC
E. Manifestasi Klinis
Kebanyakan penderita Hipertensi mempunyai keluhan sesak ,sakit kepala,gelisah,pusing,lemas, mudah lelah,kadang disertai mual muntah ,kadang disertai kelemahan otot.Adapun pemeriksaan penunjang adalah;
a. EKG
Kemungkinan pada gambaran EKG akan ditemukan adanya pembesaran ventrikel kiri(LVH) dan pembesaran atrium kiri (LAH)
b. Laboratorium
Perlu diperiksa fungsi ginjal,urine lengkap,urium kreatinin,BUN,S Creat.
c. Foto Thorak PA
Kemungkinan akan ditemukan kardiomegali
d. Ekokardiografi
Akan ditemukan adanya pembesar dinding ventrikel.
F. Pengobatan
Tujuan dari pengobatan adalah untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dengan mempertahankan tekanan darah secara normal dengan;
a. Pengobatan non farmakologi
-Teknik-teknik mengurangi stress
-Teknik penurunan berat badan
-Pembatasan alcohol ,rokok,dan natrium
-Olah raga secara teratur
-Istirahat yang cukup
-Rajin berdo’a dan beribadah
b. Pengobatan farmakologis
-Diuretik seperti furosemid,dan
-Beta bloker
-Kalsium antagonis
-ACE inhibitor
-Alpa adregenik bloking agent
-Pengobatan simpton
G. Pengkajian
a. Identitas
Meliputi nama,umur,jenis kelamin,suku/bangsa, agama, pekerjaan,pendidikan,nomor register,dinogsa,alamat
b. Keluhan utama
Meliputi mulai kapan dirasakan,seperti apa rasanya,berapa lama,apa yang memperberat dan memperingan,tindakan apa yang telah dilakukan
c. Riwayat perawatan
Meliputi riwayat penyakit sekarang,riwayat penyakit sebelumnya,riwayat kesehatan keluarga,keadaan kesehatan lingkungan,riwayat kesehatan lainnya
d. Observasi dan pemeriksaan fisik
1 Keadaan umum
2 Tanda-tanda vital
3 Sistem pernapasan
4 Sistem kardiovaskuler
5 Sistem persyarafan
6 Sistem perkemihan
7 Sistem pencernaan
8 Sistem muskuluskeletal
9 Sistem endokrin dan reproduksi

H. Dianogsa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman(nyeri kepala) sehubungan dengan peningkatan TIK yang ditanda dengan sulit tidut dan nyeri kepala.
2. Resiko tinggi penurunan curah jantung sehubungan dengan tidak adekuat aliran darah kejantung yang ditandai dengan sesak TD menurun,akral dingin,ronchi
3. Intoleransi aktivitas sehubungan dengan kelemahan fisik yang di tandai dengan bedrest,odem ektremitas,ADL di bantu keluarga dll

I. Asuhan keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri keapala) sehubungan dengan neningkatan TIK.
a. Tujuan
Nyeri kepala hilang
Px bisa tidur
b. Kreteria : setelah minum obat px tidak pusing dan bisa tidur.
c. I ntervensi :
Ø Anjurkan px untuk memikirkan hal yang positif
Ø Anjurkan untuk istirahat /berbaring bila pusing menyerang
Ø Anjurkan untuk membatasi aktivitas
Ø Anjurkan rutin untuk mengontrol tekanan darah
Ø Anjurkan meminum obat yang diberikan dari poli
Ø Anjurkan untuk control bila obat habis dan terjadi keluhan nyeri kepala hebat
2. Intoleransi aktivitas sehubungan dengan kelemahan fisik yang di tandai dengan bedrest,odem ektremitas,ADL di bantu keluarga.
a. Tujuan
Px bisa melakukan sendiri aktivitasnya
b. Kreteria : ADL tanpa dibantu keluarga
c. Intervensi
Ø Anjurkan px untuk melatih gerakan secara rutin
Ø Anjurkan px untuk melakukan sendiri kebutuhan adl yang ringan
Ø Anjurkan keluarga membantu apabila px tidak bisa melakukan sendiri
Ø Anjurkan minum obat secara teratur
Ø Anjurkan untuk control secara rutin

KEPERAWATAN CHF


CONGESTIVE HEART FAILURE
1. DEFINISI
Suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan /atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolik secara abnormal.  Suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan kelainan regulasi neurohormonal
Secara singkat menurut Sonnenblik, gagal jantung terjadi apabila jantung tidak lagi mampu memompakan darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh pada tekanan pengisian yang normal.
2. ETIOLOGI
• Faktor predisposisi
1. Penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi ventrikel, seperti :
a. Penyakit arteri koroner
b. Hipertensi
c. Kardiomiopati
d. Penyakit pembuluh darah
e. Penyakit jantung kongenital
2. Keadaan yang membatasi pengisian ventrikel
a. Stenosis mitral
b. Kardiomiopati
c. Penyakit perikardial
• Faktor pencetus
1. Meningkatnya asupan garam
2. Ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung
3. Infark miokard akut
4. Serangan hipertensi
5. Aritmia akut
6. Infeksi atau demam
7. Emboli paru
8. Anemia
9. Endokarditis

3. PATOFISIOLOGI
Sindrom gagal jantung dapat dibagi dalam 2 komponen :
1. Gagal miokardium ( myocardial failure ), yang ditandai oleh menurunnya kontraktilitas.
2. Respon sistemik terhadap menurunnya fungsi miokardium,
(a) meningkatnya aktivasi sistem simpatetik,
(b) aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron dan stimulasi pelepasan vasopressin
(c) vasokonstriksi arteria renalis.
• Gagal jantung baik kanan ataupun kiri dapat disebabkan oleh beban kerja ( beban tekanan atau beban volume ) yang berlebihan, gangguan pada otot jantungnya sendiri, ataupun oleh gabungan kelainan otot dan beban lebih.
• Beban volume ( preload ) disebabkan oleh kelainan yang menuntut ventrikel memompa darah lebih banyak semenit ( tirotoksikosis, anemia, regurgitasi mitral, dan regurgitasi aorta ).
• Beban tekanan ( afterload ) disebabkan oleh kelainan yang meningkatkan tahanan terhadap pengaliran darah ke luar jantung ( hipertensi sistemik, stenosis aorta ).
• Kelainan atau gangguan fungsi miokard dapat disebabkan oleh menurunnya kontraktilitas dan oleh hilangnya jaringan kontraktil ( infark miokard ).
• - Dalam menghadapi beban lebih, jantung menjawab ( berkompensasi ) seperti bila jantung menghadapi latihan fisik. Akan tetapi bila beban lebih yang dihadapi berkelanjutan maka mekanisme kompensasi akan melampaui batas dan ini menimbulkan keadaan yang merugikan. Manifestasi klinis gagal jantung adalah manifestasi mekanisme kompensasi.

Mekanisme kompensasi
Intrinsik
• Mekanisme Frank-Starling
• Hipertrofi miokard
• Perubahan bentuk ventrikel
Neuro-endokrin
• Respon adrenergik khrono-inotropik
• Respon renin-angiotensin-aldosteron
• Vasokonstriksi
• Retensi cairan
• Redistribusi aliran darah
• Vasokonstriksi berlebihan menurunkan curah jantung,meningkatkan afterload dan kerja mekanis ventrikel kiri,memperberat disfungsi ventrikel.
• Meskipun hipertrofi pada awalnya bermanfaat,tetapi cenderung memperlambat pengisian saat diastolik dan memberi predisposis iskemia subendokardium. Miosit yang hipertrofi lebih mudah kelelahan dan digantikan jaringan fibrosis.
• Takhikardia yang berlebihan mengurangi masa diastol
• dan menurunkam curah jantung lagi pula takhikardia
• meningkatkan kebutuhan oksigen miokardium dan
• menambah iskemia miokad.
• Kadar katekolamin yang tinggi disamping menambah afterload, juga toksik pada miokardium yang fungsinya sudah menurun.
4. KLASIFIKASI MENURUT NYHA (NEW YORK HEART ASSOCIATION)
Kelas 1 : Bila klien dapat melakukan aktifitas berat tanpa keluhan
Kelas 2 : Bila klien tidak dapat melakukan aktifitas lebih berat dari aktifitas sehari-hari tanpa keluhan
Kelas 3 : Bila klien tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa keluhan
Kelas 4 : Bila klien sama sekali tidak dapat melakukan aktifitas apapun dan harus tirah baring

5. DIAGNOSIS GAGAL JANTUNG KONGESTIF (KRITERIA FRAMINGHAM)
Kriteria mayor
a. Dyspnoe nocturnal paroksismal atau ortopnoe
b. Peningkatan tekanan vena jugularis
c. Ronchi basah tidak nyaring
d. Kardiomegali
e. Edema paru akut
f. Irma derap s3
g. Peningkatan tekanan vena >16 cm H2O
h. Refluks hepatojugular
Kriteria minor
a. Edema pergelangan kaki
b. Batuk malam hari
c. Dyspnoe d’effort
d. Hepatomegali
e. Efusi pleura
f. Kapasitas vital berkurang menjadu 1/3 maksimum
g. Takikardi (>120 x/mnt)
Diagnosis ditegakkan dari 2 kriteria mayor ;atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor harus ada pada saat yang bersamaan.


6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto thorax : Mengarah ke kardiomegali, corakan vaskular paru menggambarkan kranialisasi, infiltrat prekordial kedua paru, dan efusi pleura
Elektrokardiografi (EKG) : Untuk melihat penyakit yang mendasari seperti infark miokard atau aritmia
Kateterisasi jantung : Tekanan obnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung kanan atau kiri dan stenosis karub atau insufisiensi.
Pemeriksaan lain seperti ekokardiografi, angigrafi, pemeriksaan HB,elektrolit, fungsi ginjal, fungsi tiroid dilakukan atas indikasi


7. PENATALAKSANAAN
a. Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan konsumsi oksigen melalui istirahat/pembatasan aktifitas
b. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung
• Mengatasi keadaan yang reversibel termasuk tirotoksikosis, miksedema, dan aritmia
• Digitalisasi
-dosis digitalis : Digoxin oral untuk digitalisasi cepat 0,5-2 mg dalam 4-6 dosis selama 24 jam dan dilanjutkan 2x0,5 selama 2-4 hari;
Digoxin iv 0,75-1 mg dalam 4 dosis selama 2 jam;
Cedalinid iv 1,2-1,6 mg dalam 24 jam
-dosis penunjang untuk gagal jantung : digoxin 0,25 mg sehari. Untuk klien usia lanjut dan gagal ginjal dosis disesuaikan
-dosis penunjang digoxin untuk fibrilasi atrium 0,25 mg
-digitalisasi cepat diberikan untuk mengatasi edema pulmonal akut yang berat: digoxin: 1-1,5 mg iv perlahan-lahan; cedalinid iv 0,4-0,8 mg iv perlahan-lahan

c. Menurunkan beban jantung
• Menurunkan beban awal dengan diet rendah garam, diuretik, dan vasodilator
• Menurunkan beban akhir dengan dilator arteriol
8. PENGKAJIAN
a. Pernafasan
Gejala: Mengeluh sesak, batuk menetap atau nokturnal.
Tanda: Takipneu, bunyi nafas; krekels, mengi, sputum berwarna bercak darah, gelisah.
b. Sirkulasi
Gejala: Menyatakan memiliki riwayat demam reumatik hipertensi, kongenital: kerusakan arteial septal, trauma dada, riwayat murmur jantung dan palpitasi, serak, hemoptisisi, batuk dengan/tanpa sputum, riwayat anemia, riwayat shock hipovolema.
Tanda: Getaran sistolik pada apek, bunyi jantung; S1 keras, pembukaan yang keras, takikardia. Irama tidak teratur; fibrilasi arterial.
c. Neurosensoris
Gejala: Mengeluh kesemutan, pusing
Tanda: Kelemahan
d. Makanan/Cairan
Gejala: Mengeluh terjadi perubahan berat badan, sering penggunaan diuretik.
Tanda: Edema umum, hepatomegali dan asistes, pernafasan payah dan bising terdengar krakela dan mengi.
e. Aktivitas dan Istirahat
Gejala : Mengeluh lemah, cepat lelah, pusing, rasa berdenyut dan berdebar.
Mengeluh sulit tidur (ortopneu, dispneu paroksimal nokturnal, nokturia, keringat
malam hari).
Tanda: Takikardia, perubahan tekanan darah, pingsan karena kerja, takpineu, dispneu.

9. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung b/d .perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi irama
2. Kelebihan volume cairan b/d menurunnya laju filtrasi glomerolus, .meningkatnya produksi ADH, retensi natrium
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama.
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang penyakitnya.

10. INTERVENSI KEPERAWATAN
1) Penurunan curah jantung b/d .perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi irama
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam penurunan curah jantung dapat teratasi.
Kriteria Hasil : T = 100-139/60-89 mmHg, N = 60-100 x/ menit, CRT < 2 dt, produksi urin 0,5-1cc/kgBB/jam,
a. Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah dan denyut jantung
b. Auskultasi nadi apical
c. Catat bunyi jantung
d. Palpasi nadi perifer
e. Pantau halauan urine
f. Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat-obatan
-nitropusin (vasodilator)
-digitalis
-cek lab CKMB-LDH

2) Kelebihan volume cairan b/d menurunnya laju filtrasi glomerolus, .meningkatnya produksi ADH, retensi natrium
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam kelebihan volume cairan bisa dikurangi atau hilang
Kriteria Hasil -berat badan stabil, -tidak adanya oedem, T = 100-139/60-89 mmHg, N = 60-100 x/ menit, CRT < 2 dt, produksi urin 0,5-1cc/kgBB/jam
a. Pantau halauan urine
b. Catat jumlah dan warna setiap pasien BAK
c. Hitung keseimbangan cairan masuk dan keluar
d. Ubah posisi dengan sering
e. Tinggikan kaki bila duduk
f. Auskultasi bunyi nafas
g. Catat adanya bunyi nafas tambahan
h. Pantau tanda-tanda vital

3) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
Setelah di;akukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam terdapat respon perbaikan dengan meningkatnya kemampuan beraktifitas klien
Kriteria Hasil:
-Klien berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan
-Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri
-Menurunnya kelemahan dan kelelahan
-Tanda vital dalam batas normal selama aktifitas (N:60-100x/mnt,TD:120-130/80-90,RR:20-22x/mnt,S:36-37 )
a. Periksa tanda vital sebelum dan sesudah aktifitas
b. Catat respon kardiopulmonal terhadap aktifitas, catat takikardi,disritmia,dyspne,berkerigat,pucat
c. Kaji penyebab kelemahan
d. Evaluasi peningkatan intoleransi aktifitas
e. Berikan bantuan dalam perawatan diri sesuai indikasi. Selingi periode aktifitas dengan periode istirahat
Kolaborasi untuk program rehailitasi jantung atau aktifitas

KEPERAWATAN ASD


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ATRIAL SEPTAL DEFEK (ASD)

I. Pengertian
Defek Septum Atrium (ASD) adalah adanya hubungan (lubang abnormal) pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. (Buku Ajar Kardiologi: FKUI 2003)
Tipe ASD :
• Ostium primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum,mungkin disertai kelainan katup Mitral.
• Ostium Sekundum (ASD 2), lubang berada ditengah septum.
• Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara vena cava Superior dan atrium kanan .
Gangguan Hemodinamik:
Tekanan di Atrium kiri lebih tinggi dari pada tekanan diatrium atrium kanan sehingga memungkinkan darah dari atrium kiri mengalir ke atrium kanan.
Manifestasi:
• Bising sistolik tipe ejeksi di daerah di daerah sela iga dua/tiga pinggir sternum kiri.
• Dispnea
• Aritmia
Komplikasi:
• Gagal jantung
• Panyakit pembuluh darah paru
• Endokarditis
• Aritmia
Pengobatan :
• Pembedahan penutupan defek

II. Pengkajian
Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas).
• Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, napas cepat, sesak, retraksi dada, bunyi jantung tambahan (machinery murmur), edema tungkai, hepatomegali.
• Kaji adanya hipoksi kronis: Clubbing finger.
• Kaji adanya hiperemia pada ujung jari.
• Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan.
• Pengkajian psikososial : usia anak, tugas perkembngan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak.

III. Diagnosa keperawatan.
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d defek struktur
2. Intoleransi aktivitas b.d gangguan transport oksigen
3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d ketidakadekuatan oksigen dan nutrient pada jaringan isolasi sosial
4. Resiko tinggi infeksi b.d status fisik yang lemah
5. Resiko tinggi cedera (komplikasi) b.d kondisi jantung dan terapi
6. Perubahan proses keluarga b.d mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)


IV. Rencana Intervensi.
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d defek struktur
Tujuan :
Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung
Kriteria Hasil :
a. Frekuensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia
b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgBB, bergantung pada usia)
Intervensi keperawatan/rasional :
a. Beri digoksin sesuai program, dengan membuat kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.
b. Beri obat penurun afterload sesuai program
c. Beri diuretik sesuai program

2. Intoleransi aktivitas b.d gangguan transport oksigen
Tujuan :
Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan
Kriteria Hasil :
a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
b. Anak mendapatkan waktu istirahat/ tidur yang tepat
Intervensi keperawatan/rasional :
a. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan
b. Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang
c. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
d. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen
e. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas
f. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.

3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d ketidakadekuatan oksigen dan nutrient pada jaringan isolasi sosial
Tujuan :
Pasien mengikuti kurva pertumbuahan berat badan dan tinggi badan
Anak mempunyai kesemparan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia
Kriteria Hasil :
a. Anak mencapai pertumbuahn yang adekuat
b. Anak melakukan aktivitas sesuai usia
c. Anak tidak mengalami isolasi sosial
Intervensi keperawatan/rasional :
a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuahn yang adekuat
b. Pantau tinggi dan berat badan : gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan
c. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan
d. Dorong aktivitas yang sesuai usia
e. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain
f. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah
4. Resiko tinggi infeksi b.d status fisik yang lemah
Tujuan :
Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi
Kriteria Hasil :
Anak bebas dari infeksi
Intervensi keperawatan/rasional :
a. Hindari kontrak dengan individu yang terinfeksi
b. Beri istirahat yang adekuat
c. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

5. Resiko tinggi cedera (komplikasi) b.d kondisi jantung dan terapi
Tujuan :
Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini
Kriteria Hasil :
a. Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat
b. Klien/keluarga menunjukkan pemahaman tentang test diagnostik dan pembedahan
Intervensi keperawatan/Rasional :
a. Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi
b. Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik
c. Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga
d. Siapkan anak dan orang tua untuk membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan
e. Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan

6. Perubahan proses keluarga b.d mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)
Tujuan :
Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas
Klien menunjukkan perilaku koping yang positif
Kriteria Hasil :
Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya
Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif
Intervensi keperawatan/rasional :
a. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah detak jantung dan gejala fisiknya pada anak kerena hal ini sering menyebabkan ansietas/takut
b. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah
c. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri
d. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak


PROSEDUR TINDAKAN KATETERISASI JANTUNG KANAN DAN KIRI
Persiapan alat:
1. Manifold two port 2
2. Blood set 2
3. Pressure line panjang 2
4. Spuit 10 cc 2
5. Spuit 20 cc / 50 cc 1
6. Spuit 2 cc 7
7. Sheat introduser 7F, 6F
8. Mess
9. Balon sizing sesuai ukuran
10. Guide wire 0,035 inchi panjang 150 cm
11. Lidokain 2% 4 ampul
12. NS 0,9% drip heparin 5000 iu (1 cc)
13. Bahan kontras non ionik
14. Kateter sesuai RPA dan Pigtail

Tindakan:
1. ECG pretindakan
2. penderita tidur terlentang di meja operasi
3. Dilakukan desinfeksi daerah inguinal kanan dan kiri dengan betadin 10%
4. Tentukan denyut arteri femoralis kanan
5. Lakukan anestesi lokal pada daerah 2 cm di bawah denyutan arteri femoralis kanan didaerah inguinalis dengan lidokain 2% sebanyak 2-5 cc
6. Lakukan pungsi vena femoralis kanan dengan teknik seldinger, setelah jarum masuk vena femoralis lakukan insersi guide wire pendek, evaluasi dengan fluoroskopi. Setelah posisi guide wire tepat pada lumen vena femoralis kanan, jarum seldinger ditarik keluar dan introduser sheath dimasukan melalui guide wire secara perlahan, evaluasi dengan fluoroskopi.
7. Lakukan aspirasi darah 2 cc, kemudian diflush dengan larutan saline heparin. Masukan kateter multipurpose melalui sheath yang telah terpasang. Lakukan monitoring tekanan dan diikuti fluoroskopi hingga ujung kateter berada pada atrium kanan.
8. Masuk guide wire 0,38 kateter multi purpose 6f sampai RA ke LA hingga ke vana pulmunalis.periksa saturasi di vena pulunalis,rekaman tekanan.kateter ditarik kembaki hingga RA,rekam tekanan
9. Kateter dimasukan ke ventrikel kanan terus ke arteri pulmonalis sampai ke cabang arteri pulmonalis kanan/kiri. Dilakukan rekaman.
10. Dilakukan evaluasi saturasi darah di cabang arteri pulmonalis, kemudian kateter ditarik kembali ke ventrikel kanan (pullback recording), dilakukan evaluasi saturasi di RV. Dan setelah itu kateter ditarik ke atrium kanan (rekam tekanan).
11. Kateter diarahkan ke vena kava superior,saturasi oksigen di SVC di ukur
12. ECG ulang
13. Prosedur selesai.semua kateter dilepas.